Tidak Semua Orang Belanda itu Jahat

Foto bersama warga Bumiputera dan warga Belanda di Hindia Belanda
Sumber: Instagram

Ketika kita belajar sejarah di sekolah tentu saja kita pasti memiliki pemikiran yang sama, yaitu "Semua orang Belanda pasti jahat dan panjajah yang kejam nan tak berperikemanusiaan". Kita mengecam tindakan Jan Pieterczoon Coen yang membantai ribuan penduduk di Banda tahun 1621, Sistem Tanam Paksa diterapkan tahun 1830, strategi adu domba dengan kerajaan lokal, dan masih banyak lagi.

Tapi, kita melupakan sesuatu.

Ternyata dalam sejarah Hindia Belanda secara jujur mengungkap fakta menarik, bahwa masih ada orang Belanda baik. Kira-kira siapakah mereka kok orang baik dan sangat berjasa pada masyarakat Bumiputera. Kita mulai meringkas tujuh tokoh Belanda dianggap berperan penting memberikan sumbangsih penting bagi masyarakat Bumiputera.

1.      Eliza van Zuylen, Perempuan Belanda Mengembangkan Batik

Sumber: Batiks Fabric

Eliza van Zuylen dengan nama asli Eliza Charlotta Niessen, seorang perempuan Belanda terkenal di Pekalongan, Jawa Tengah pada tahun 1863 hingga dimakamkan di kerkhof/ pemakaman Eropa, Pekalongan pada tahun 1947 atas kontribusi penting terutama mengembangkan gaya batik campuran khas Jawa, Eropa, dan Indies, salah satunya motif buketan bunga atau dikenal dengan Van Zuylen Bouquet. Beliau mendorong masyarakat Pekalongan untuk mengembangkan motif-motif batik baru kemudian dipasarkan dan dijual luas baik di Hindia Belanda maupun hingga Eropa. Anda dapat menikmati karya batik buatan Zuylen di Museum Batik, Pekalongan. (https://inibaru.id/tradisinesia/eliza-van-zuylen-salah-satu-sosok-penting-dalam-perkembangan-batik-di-pekalongan)

2.       Johannes van der Steur, Misionaris yang Peduli Anak Terlantar

Sumber: Merdeka.com


Seorang misionaris kelahiran di Haarlem, Belanda pada 10 Juli 1865. Pada awalnya, beliau ditugaskan di Hindia Belanda untuk kebutuhan spiritual untuk para prajurit tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) di Magelang, Jawa Tengah. Namun, ia menemukan banyak anak-anak terlantar atas hasil pergundikan yang hidup di markas tentara KNIL kemudian ia memutuskan untuk menampung seluruh anak-anak hidup pergundikan bahkan ribuan anak terlantar lainnya yang berasal dari Jawa, Manado, Maluku, hingga Eropa. Ia mendirikan Panti Asuhan Oranje Nassau di Magelang pada tahun 1892 terus melayani di sana hingga wafat tahun 1942. Anda dapat menemukan makam Johannes van der Steur di Magelang.

3.       Karel Albert Rudolf Bosscha, Tuan Kaya Raya yang Baik Hati dan Peduli

Sumber: moiibandoeng.wordpress

Bagi orang Malabar, Bandung atau mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung) pasti kenal dengan sosok orang Belanda keturunan Jerman sangat berjasa atas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Bandung, Jawa Barat. Beliau adalah pengusaha teh paling tajir di masa itu. Beliau bekerja di perkebunan the Priangan, Garut bersama pamannya. Penjualan teh berhasil dijual hingga China sehingga ia memperoleh kekayaan dan keuntungan besar. Namun, ia memilih menggunakan kekayaan untuk membantu dan mengentaskan tingginya buta huruf masyarakat yang ia diperkerjakan. Ia mendirikan Vervoolgschool te Malabar atau sekolah dasar untuk anak-anak perkebunan termasuk anak-anak Eropa dimana mereka mendapatkan pendidikan yang setara. Ia juga berjasa atas pendirian observatorium termausk ia rela membeli sebuah teropong besar dan mahal dari Jerman kemudian dibawa ke Hindia Belanda, dimana ia berjasa mendirikan sebuah perguruan tinggi khusus teknologi bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng yang kini menjadi ITB. Ia juga memberikan tanah gratis seluas 25.000 m2 dan uang 200 ribu gulden untuk pembangunan rumah sakit dan lembaga penelitian kanker di Bandung termasuk membangun jalan, rumah, infrastruktur lainnya untuk masyarakat Bumiputera. Ia meninggal akibat serangan jantung pada 26 November 1928. Kepergiannya disambut isak tangis oleh banyak warga Bumiputera yang masih memanggilnya sebagai tuan, hingga sekarang makam Bosscha dan rumah peninggalan milik Bosscha masih dijaga baik oleh masyarakat Malabar. (https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20240923093401-25-573747/orang-terkaya-ri-tak-ingin-tajir-sendirian-bagikan-harta-buat-warga)

4.       Eduard Douwes Dekker, Asisten Residen Lebak yang Berani

Sumber: Museum Multatuli

Siapa tak kenal dengan buku Max Havelaar karangan nama samaran Multatuli? Ya, sosok penulis kelahiran Amsterdam pada 2 Maret 1820 pernah bekerja sebagai asisten residen di Lebak, Banten, pada tahun 1856. Di sanalah, ia menemukan adanya ketidakadilan dan penderitaan rakyat Lebak akibat sewenang-wenang bupati Lebak serta pejabat elit Belanda saat itu Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel masih diterapkan. Bupati Lebak saat itu diduga merampas segala harta warga Lebak, seperti kerbau diperintahkan untuk disembelih dan dijadikan untuk makanan dan pesta mewah serta memaksa rakyat Lebak bekerja tanpa dibayar. Douwes Dekker kemudian melapor adanya dugaan praktik korupsi dan kerja paksa kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa saat itu, Jan Jacob Rochussen menjabat pada 30 September 1845 hingga 12 Mei 1851. Namun, ia justru diperintahkan kembali ke Belanda dan mencabut jabatannya sebagai asisten residen Lebak. Kemudian, ia menulis buku Max Havelaar yang ditulis berdasarkan pengalaman hidup sendiri yang bekerja di Hindia Belanda. Buku ini sukses menjadi perhatian besar di Belanda dan berjasa atas penghapusan Sistem Tanam Paksa secara bertahap.

5.       Isaac Dignus Fransen van de Putte, Orang Belanda Protes di Tanah Belanda

Sumber: Wikipedia

Seorang tokoh liberal dari Belanda menjadi pelopor garis keras menentang Sistem Tanam Paksa bersama Eduard Douwes Dekker, Baron van Hoeval, dan Conrad Theodor van Deventer. Ia menulis buku yang berjudul “Suiker Contracten” atau “Kontrak-Kontrak Gula” dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai protes keras terhadap kebijakan Sistem Tanam Paksa diberlakuan di tanah kolonial Hindia Belanda. Di parlemen Belanda, Fransen van de Putter terus menyuarakan aspirasi penghapusan kebijakan yang merugikan rakyat Bumiputera dan mendukung usulan dari Conrad Theodor van Deventer, Ethische Politiek atau Politik Etis yang fokus tiga tujuan utama, yaitu pendidikan, irigasi, dan transmigrasi, yang sering disebut Trias Van Deventer. (https://kumparan.com/berita-update/tokoh-belanda-yang-menentang-sistem-tanam-paksa-pada-masa-penjajahan-1wvx4pgfjGF/full)

6.       Karel Frederik Holle, Sahabat bagi Masyarakat Sunda

Sumber: Historia ID

Karel Frederik Holle lahir di Amsterdam pada 9 Oktober 1829 dan menginjakkan kaki pertama kali di Jawa pada 1843 sebagai juru tulis di kantor pemerintah kolonial selama 10 tahun. Kemudian, ia pensiun berdinas dan membuka perkebunan Teh Waspada di Cikajang, Garut, Jawa Barat. Ia sering menghabiskan waktu untuk mempelajari budaya dan bahasa Sunda, terutama penerbitan naskah-naskah wawacan dan ilmu pertanian untuk rakyat Sunda. Melalui sahabat dekat, Moehamad Moesa, ia menjadi pelopor sastra dan literatur penting dalam pengembangan budaya dna bahasa Sunda yang kaya. Bahkan ia menjadi satu-satunya orang Belanda fasih berbahasa Sunda selain bahasa Melayu. Dalam buku Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke 19 oleh Mikhiro Moriyama menyatakan bahwa pada 1861 pemerintah Hindia Belanda memberikan dukungan perkembangan bahasa Sunda dengan memberi dana sebesar 1.200 gulden kepada Holle untuk penerbitan buku-buku bacaan dan diktat sekolah berbahasa Sunda, salah satunya karya Holle yang paling terkenal, yaitu membahas tentang serial budidaya padi, jagung, kelapa, arem, waluh, dan laba dalam judul “Tijdschrift voor Nijverheid en Landbow van Nederlandsch-Indie” ditulis di bawah tajuk De Vriend van de Landman pada 1871, yang diterjemahkan dalam bahasa Sunda, Jawa, Madura, Melayu, Bugis, dan Makassar pada kurun 1874 hingga 1899. Ia meninggal pada 3 Mei 1896 dan dimakamkan di Koningsplein kini Tanah Abang, Batavia. Tak lama kemudian, masyarakat Garut mendirikan tugu peringatan Holle di alun-alun kota itu pada 1899. (https://www.historia.id/article/tuan-holla-dari-belanda-sahabat-orang-sunda-p4waj)

7.       Cornelis Chastelein, Eks Pejabat VOC yang Peduli Budak-Budak

Sumber: CNBC Indonesia

Tahukah Anda kepanjangan Depok? Ya, Depok adalah singkatan dari De Eerste Protestantse Organisatie van Christilijke atau Organisasi Kristen Protestan Pertama. Depok tidak lain merupakan sebidang tanah luas yang dibeli oleh Cornelis Chastelein pada awalnya bekerja sebagai pegawai VOC pada abad ke 17. Namun, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, ia mengundurkan diri dan membeli tanah di Srengseng (kini Lenteng Agung) kemudian membawa budak-budak yang ia bebaskan dan keluarganya. Jumlah budak tercatat mencapai 150 orang berasal dari Maluku, Bugis, Minahasa, dan Bali kemudian menjadi Kristen dan berbicara bahasa Belanda, yang dikenal sebagai Belanda Depok. Kemudian, mereka bekerja di tanah milik Chastelein di Srengseng, Mampang, dan Depok yang menghasilkan tebu, klada, pala, dan kopi. Ia wafat pada 28 Juni 1714 dan membagikan seluruh tanah miliknya kepada budak-budak yang ia bebaskan agar dapat memiliki tanah sendiri. (https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20250814103720-33-657906/rahasia-nama-kota-depok-yang-ternyata-singkatan-bahasa-belanda)

Dan, masih banyak lagi orang Belanda lainnya yang peduli pada masyarakat Bumiputera saat itu, misalnya Ernest Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi (aktivis dari Indische Partij), Pieter Brooshooft (wartawan mengadvokasi Politik Etis), Jan Laurens Andries Brendes (ilmuwan menyelamatkan sejarah Majapahit hampir punah), Frans van Lith (seorang romo Belanda berani menentang pemerintah kolonial), dan masih banyak lagi. 

Jadi, tidak semua orang Belanda itu jahat! Justru masih banyak orang Belanda yang peduli dan berperan penting bagi masyarakat Bumiputera. Jasa-jasa mereka harus tetap dikenang selamanya meskipun kita pernah mengusir paksa orang-orang Belanda dan keturunan yang dipaksa kembali ke Belanda yang asing pada masa revolusi hingga puncak tragedi Sinterklas Hitam (Zwarte Sinterklaas) pada tahun 1957. Bagaimanapun, sejarah ini menyatakan kebenaran bahwa tidak semua orang Belanda itu jahat dan justru warisan Belanda sangat bermanfaat bagi kita semua sendiri. 

Jadi, ya selamat Natal dan Tahun Baru 2026!

Referensi:

Dekker, Douwes. 1860. Max Havelaar: Multatuli (Max Havelaar, of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij). Belanda

Baay, Reggie. 2017. Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda (De Njai: Het Concubinaat in Nederland-Indie). Jakarta: Komunitas Bambu

Comments