Hubungan Diplomatik Indonesia-Belanda Dalam Konteks Sejarah?

Ilustrasi: Ratu Maxima bertemu Presiden Prabowo di Jakarta.
Sumber: Beautynesia

Kunjungan Ratu Maxima dari Belanda dalam tugas utusan khusus PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di Indonesia pada tanggal 24-27 November menuai banyak reaksi oleh para netizen Indonesia, terutama menyoroti kunjungan Ratu Maxima di Pura Mangkunegaraan Surakarta kini dipimpin oleh adipati Gusti Bhre selaku Mangkunegaraan X. Banyak menduga terkait sejarah bahwa Mangkunegaraan Surakarta pasti pro Belanda, bahkan menuduh Keraton Surakarta pastilah juga pro Belanda. 

Well, apakah benar?

Tidak selalu benar! Memang benar Mangkunegaraan saat itu terutama Mangkunegaraan IV bekerjasama dengan Belanda untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Vorstenlanden di kota Surakarta. Mangkunegaraan IV berhasil membuka pabrik gula sendiri, yaitu Pabrik Gula Tasikmadoe dan Pabrik Gula Colomadu, yang membuka lapangan kerja untuk para warga Bumiputera. Kantor perusahaan gula milik Mangkunegaraan IV masih ada di dekat Pura Mangkunegaraan Surakarta.  

Tapi, tidak ada orang tahu, bahwa Mangkunegaraan VII pernah ingin membuka pusat pembangkit listrik di Tawamangu tapi ditolak oleh dua perusahaan swasta Belanda, SEM (Solosche Electriciteits Maatschappij) dan ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij) dan juga pemerintah kolonial terkait masalah perizinan dan persaingan industri listrik di tanah Vorstenlanden. Padahal Mangkunegaraan VII sendiri berupaya kemandirian dan kemakmuran rakyat Vorstenlanden di tanah sendiri. Sebuah bangunan kecil berisi tentang listrik yang ditutup oleh pemerintah kolonial masih ada di depan Pura Mangkunegaraan Surakarta, tepatnya di Ngarsopuro.   

Maka, Mangkunegaraan Surakarta memanfaatkan kerjasama dengan Belanda untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Bumiputera sehingga kota Solo dan sekitarnya menjadi daerah paling maju dan makmur di Hindia Belanda kala itu. Di wilayah Vorstenlanden Surakarta sendiri konon memiliki 49 pabrik tersebar di seluruh Soloraya (modern), termasuk 7 pabrik di Baki, Sukoharjo, menurut salah satu saksi sejarah mengaku memiliki keturunan seorang tokoh Tionghoa terkenal di Baki, Sukoharjo, Bah Baki, seorang prajurit Tionghoa bertugas di Keraton Surakarta Hadiningrat.  

Kerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda pada jaman Hindia Belanda tidak selalu berkonotasi negatif seperti banyak orang Indonesia percaya. Mereka percaya kalau itu buruk dan mengkhianat karena itu konteks pada awal pendudukan Belanda di Jawa dimana pasukan Belanda berambisi menguasai di Jawa. Jadi, lain berbeda kasus ketika Mangkunegaraan Surakarta menjalin kerjasama dengan Belanda semata-mata Mangkunegaraan itu ingin melakukan upaya kesejahteraan rakyat Vorstenlanden yang beliau pimpin. Itu kerjasama yang baik karena sangat berdampak bagi kesejahteraan masyarakat Vorstenlanden dimana angkringan atau wedangan kita kenal merupakan usaha kecil milik rakyat Bumiputera pertama kali pernah ada di Surakarta bahkan sebelum Indonesia meraih kemerdekaan serta dapat menikmati kemakmuran saat itu dengan terbukanya lapangan kerja dan mendapatkan gaji atas hasil kerja mereka peroleh. 

Jadi, kembali membahas hubungan diplomatik Indonesia dan Belanda dimulai pada tahun 1949 sejak pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Sempat memburuk terkait masalah Irian Jaya kemudian dipulihkan pada tahun 1963. Hubungan diplomatik Indonesia-Belanda terus berkembang hingga sekarang. Dalam proses tersebut, kedua negara telah banyak mengembangkan berbagai macam bidang, salah satunya beberapa perusahaan asal Belanda tetap beroperasi di Indonesia, yaitu Unilever, Philips, Shell, dan Frisian Flag berperan penting dalam membuka lapangan kerja baru bagi rakyat Indonesia. Ini adalah kelanjutan manfaat jangka panjang bagi kedua negara. Maka, para pejabat penting Belanda berkunjung ke Indonesia, salah satunya kunjungan Ratu Maxima baru-baru ini. Meski beliau datang sebagai utusan khusus perwakilan PBB tetapi beliau tetap mewakili orang Belanda ketika berkunjung di Indonesia. Bukan dia hanya satu-satunya, tetapi Ratu Juliana pernah berkunjung ke Indonesia pasca pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1971. Kunjungan Ratu Juliana itu berlangsung aman dan damai, disambut baik juga oleh masyarakat kala itu. 

Maka, demikian ini seharusnya tidak perlu dipersoalkan terkait masa lalu. Kita sudah selesai masa lalu karena kita sudah merdeka dan orang Belanda seperti Ratu Maxima pun datang ke sini hanya untuk kunjungan kerja, studi, atau turis sama seperti warga negara asing lainnya. Tidak ada orang Belanda datang ke sini kemudian mengibarkan bendera Belanda sambil berteriak "Hidup Raja Alexander dan Ratu Maxima! Hidup Hindia Belanda!" atau bahasa Belanda, "Lang Leve Koning Alexander en Koningin Maxima! Het Leve Nederland-Indie!" Itu TIDAK MUNGKIN!

Hindia Belanda itu sudah mati, sama seperti Uni Soviet, Jerman Timur, Vietnam Selatan, bahkan Kekaisaran Mongol. Negara yang sekarang adalah Indonesia. Maka, move on, lah. Jangan membahas masa lalu terkait tentang Belanda dan orang Belanda! Banyak orang Belanda sudah malas membahas tentang masa lalu, kecuali sejarah. Jadi, tidak usah membahas masa lalu, ya. 

Referensi:

Sulistyo, Eko. 2021. Jejak Listik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta 1901-1957. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

https://www.historia.id/article/kunjungan-pertama-penguasa-belanda-ke-indonesia-v5by9

https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_Belanda_dengan_Indonesia

Festival Museum Sejarah Baki, Sukoharjo. September 2025

Comments