Gimana Cerita Kok Banyak Orang Jawa di Belanda dan Suriname?

Mantan atlet renang asal Belanda, Ranomi Kromowidjojo,
Sumber: SwimSwam

Ketika Anda suka menonton pesta olahraga terbesar di dunia, yaitu Olimpiade dimana ada seorang atlat mewakili Belanda yang memiliki nama Jawa di belakang. Dia adalah Ranomi Kromowidjojo. Beliau merupakan atlet Belanda kelahiran di Sauwerd, Belanda, pada 20 Agustus 1990 dan memenangi tiga medali emas dan satu medali perak Olimpiade tahun 2008 dan 2012. Namun, beliau sudah pensiun dari renang profesional sejak Desember 2021. 

Ranomi Kromowidjojo, bukan hanya satu-satunya orang Jawa kelahiran Belanda, tetapi masih banyak orang Jawa yang populer di Belanda maupun Suriname, seperti Julian Oerip (Belanda), Wietke van Dort alias Tante Lien (Belanda), Andy Atmodimedjo (Suriname), Sri-Dewi Martomamat (Suriname), dan masih banyak lagi. Pertanyaan adalah mengapa da banyak orang Jawa hidup di Belanda dan Suriname?

Orang Jawa di Suriname
Sumber: Migrasi Orang Jawa di Suriname,
National Geographic Indonesia

Migrasi orang Jawa ke Suriname sudah berlangsung sejak tahun 1890 hingga 1939. Mereka adalah kelompok pekerja yang diberi kontrak dan direkrut untuk bekerja di beberapa perkebunan dan pabrik di distrik Marienburg, Moengo, Moerzorg, Commenwijne, dan lain-lain sekitaran ibukota Suriname, Paramaribo. Mereka dipilih secara acak oleh Belanda dan sebagian besar berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Mereka mesti berlayar menuju Amsterdam dengan menaiki kapal laut untuk mengikuti tes medis dan menandatangani kontrak kemudian berlayar lagi menuju Suriname kemudian langsung bekerja. Ada peringatan kedatangan orang Jawa di Suriname dirayakan pada setiap 9 Agustus di Suriname. 

Orang Jawa Suriname kemudian menetap di sana secara turun-menurun bahkan berperan dalam mencapai kemerdekaan Suriname pada 25 November 1975, salah satu Iding Soemitra membentuk partai politik berisi orang-orang Jawa di Surinama bernama Kerukunan Tulodo Pranantan Inggil (KTPI). Kemudian, ada partai politik lainya bernama Pertjajah Luhur yang didirikan oleh Paul Somohardjo. Partai-partai yang didirikan oleh komunitas Jawa memiliki tujuan yaitu ingin menciptakan sejarah baru, yaitu orang Jawa pertama terpilih menjadi Presiden Suriname sejak meraih kemerdekaan tahun 1975. 

Hingga sekarang, populasi orang Jawa Suriname mencapai 15%, belum termasuk ada beberapa orang Jawa Suriname bermigrasi ke Belanda dan negara lainnya. Mereka hidup berbahasa Jawa Ngoko, tetapi mereka fasih berbicara bahasa Belanda sebagai bahasa nasional di Suriname. Mereka memang orang Jawa namun dibesarkan dengan gaya, pengalaman, budaya, dan cara hidup sangat berbeda dengan orang Jawa Indonesia dimana mereka dibesarkan dengan budaya barat dan liberal yang dikenal dengan budaya egaliter dan berpemikiran terbuka sebagaimana orang Jawa Belanda yang lahir dan besar di Belanda. 

Orang Jawa di Belanda
Sumber: Para Mahasiswa Jawa di Belanda
New Mandala

Kedatangan orang Jawa di Belanda terbagi tiga fase, yaitu fase pertama adalah masa kolonial pada abad ke 17 saat itu masih di bawah pemerintah Hindia Belanda, fase kedua adalah masa kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (1945-1949), dan fase ketiga adalah masa kontemperor dan reformasi pada tahun 1999. Pada periode pertama adalah munculnya budak-budak dan pembantu Jawa yang dibawa oleh keluarga-keluarga kaya di Eropa pada abad ke 17, 18, dan 19. Kemudian, politik etis resmi diberlakuannya di Hindia Belanda menyebabkan munculnya para priyayi atau elit-elit Jawa modern yang mengenyam pendidikan tinggi di Belanda, salah satu Muhammad Hatta menyelesaikan studi di Hangels Hoogeschool sekarang Erasmus Universiteit, Rotterdam, Belanda. Raden Saleh seorang priyayi Jawa dari Semarang adalah orang Jawa pertama menginjakkan kaki di Belanda pada tahun 1829 atas ajakan Van der Capellen. 

Pada peristiwa Bersiap dan Sinterklas Hitam, orang Jawa yang pro Belanda turut dibawa ke Belanda, meskipun didominasi etnis Maluku juga dibawa ke Belanda. Populasi komunitas Jawa di Belanda makin bertambah dengan arus migrasi besar-besar orang Jawa Suriname pada pra kemerdekaan Suriname. Mereka berpendapat bahwa secara politik, ekonomi, dan sosial di Belanda jauh lebih baik daripada di Suriname saat itu dilanda kekacauan politik dan gerakan kemerdekaan makin meluas. Hingga sekarang jumlah populasi diaspora Indonesia di Belanda mencapai setidaknya ada 1 juta populasi di antaranya 21 ribu orang Jawa tinggal di Belanda, baik telah berkewarganegaraan Belanda maupun tetap berpaspor Republik Indonesia. 


Jadi, ya, memang banyak orang Jawa di Belanda dan Suriname. Namun, jangan kaget bila secara budaya, mereka hidup berbeda dengan orang Jawa di Indonesia karena hidup dan tumbuh di Belanda yang liberal dan bebas serta tidak semua orang Jawa masih berbahasa Jawa apalagi bahasa Indonesia. Mereka mungkin hanya bisa berbahasa Inggris dan berbahasa Belanda sebagai bahasa ibu mereka meskipun mereka beretnis Jawa. Oleh karena itu, mari menghargai kebiasaan mereka dan bahkan akan lebih baik jika mereka mau belajar bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. 

Referensi:

Prastowo, Fuji Riang, dkk. 2017. Sejarah Orang Jawa di Belanda. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
https://intisari.grid.id/read/033810216/tak-disangka-ini-dia-5-negara-di-dunia-dengan-penduduk-orang-jawa
https://internasional.kompas.com/read/2022/07/14/215800670/kenapa-banyak-orang-jawa-di-suriname-ini-sejarah-dan-perbedaan?page=all
https://www.nationaalarchief.nl/onderzoeken/zoekhulpen/javaanse-contractarbeiders-in-suriname-1890-1930
Festival Sejarah Baki, Sukoharjo. Agustus 2025.




Comments