![]() |
| Kongres Perempuan Indonesia, 23-28 Juli 1954, Sumber: INCA University |
Saat saya membaca sebuah tweet dari X tentang permintaan maaf yang dilakukan oleh Nessie Judge tiba-tiba ada sebuah komentar dari orang Jepang menganggap Indonesia harus menghormati Jepang karena telah memberikan kemerdekaan dan mengusir Belanda. Apakah itu benar?
Sebenarnya tidak selalu benar. Memang Jepang telah berjanji akan memberikan kemerdekaan tetapi Indonesia sudah lebih dulu memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, yang mana bukan merupakan janji Jepang. Janji Jepang sendiri diperkirakan akan terjadi pada akhir Agustus mengingat situasi Perang Pasifik masih berlangsung meski Jepang sudah dinyatakan kalah. Maka, 17 Agustus merupakan situasi yang genting, terjadinya kekosongan kekuasaan, dan desakan para pemuda menginginkan segera diproklamasikan kemerdekaan. Soekarno memang menunggu janji Jepang karena memang sudah dijanjikan sejak Dalat, Vietnam pada tanggal 12 Agustus 1945. Namun, akhirnya dipaksa oleh golongan muda, Soekarno pun mendeklarasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Alasan Jepang memberikan janji, karena ada aturan tak tertulis dalam perang bahwa bila Jepang kalah maka Jepang harus segera menyerahkan kekuasaan kepada Belanda sesuai fakta bahwa Belanda adalah penguasa terakhir maka Belanda berhak untuk mendapatkan kekuasaan lagi. Selain ini, Jepang dalam keadaan terdesak pada akhir Perang Dunia II sehingga Jepang berusaha menarik simpati rakyat jajahan.
Jadi, tidak benar bahwa Indonesia merdeka karena janji Jepang tetapi merdeka karena atas kehendak rakyat sendiri. Kemerdekaan Indonesia ini cepat menyebar di seluruh Jawa tetapi diketahui sedikit lebih terlambat di luar pulau Jawa. Itu fakta historis, ya.
Kembali pada topik, memang perempuan harus belajar sejarah karena ada netizen Jepang tidak mengakui tentang kejahatan seksual terhadap perempuan yang dilakukan oleh tentara Jepang selama Perang Dunia II. Istilah tersebut dikenal dengan jugun ianfu atau wanita penghibur Kejahatan ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi Korea, China, Taiwan, dan daerah lainnya pernah dikuasai oleh Jepang sejak abad ke 19. Para perempuan sendiri berasal dari Jawa, Bali, Batak, Minahasa, Manado, hingga Eropa diambil paksa dan dijadikan sebagai pelayan seksual bagi tentara Jepang. Kalau menolak, mereka akan dibunuh dan dihukum berat.
Di Hindia Belanda yang telah jatuh di tangan Jepang pada tahun 1942, memolopori bahwa dalam skala besar mencapai 70.000 direkrut paksa oleh Jepang sebagai wanita penghibur (troostmeisjes) yang berasal dari perempuan Eropa dan Bumiputera, yang dikutip dalam buku Levensiang Oorlog oleh Griselda Molemans. Para perempuan itu juga dipaksa masuk ke kamp-kamp internian konsentrasi terutama vrouwenkampen (kamp untuk perempuan) di seluruh wilayah kekuasaan Jepang dimana terdapat ada rumah-rumah bordil difungsikan melayani seksual dengan para tentara Jepang. Hal ini dianggap dapat menegakkan disiplin moral tentara dan kebutuhan seksual tentara Jepang dapat terpenuhi selama misi Perang Dunia II. Di Kamp Gedangan, Semarang, ada 200 perempuan berani memberontak melawan para tentara Jepang ketika dipaksa untuk mengikuti seleksi. Tidak hanya perempuan saja, tetapi juga para laki-laki Belanda dan Bumiputera termasuk anak-anak dimasukkan ke kamp-kamp internian (jongenkampen) yang dijaga ketat oleh tentara Jepang.
Maka, sejarah perempuan itu teramat panjang mungkin tidak dapat dibagi hari ini. Namunm, ringkasan sejarah di atas seharusnya kaum wanita perlu tahu. Mengapa demikian?
Kalau tidak belajar, maka perempuan akan mudah diatur atau dimanipulasi oleh laki-laki belum tentu laki-laki itu baik. Maka akhirnya perempuan itu dibatasi segala hal dan diatur demikian rupa agar menjadi "wanita yang sopan, lemah lembut, dan tunduk pada suami". Dalam sejarah itu banyak mengungkapkan semuanya, bahkan ada yang menceritakan bahwa perempuan melawan laki-laki dengan cara memotong penis (Lorena Bobbitt menjadi viral tahun 1993 karena tindakan sangat berani, yaitu memotong penis suami yang toksik dengan pisau dapur, Anda dapat baca di sini), membunuh pria yang pemerkosa, mendobrak sistem yang membatasi kebebasan perempuan, hingga melapor ke polisi.
Dengan sejarah tersebut, laki-laki seharusnya memperlakuan perempuan sesuai haknya, martabatnya, dan kewajibannya, misalnya memberi dukungan dan kesempatan untuk perempuan berkarir, mengejar impian, dan lain-lain bahkan sudah menikah (tentu sesuai kesepakatan pasangan itu masing-masing). Dunia membutuhkan wanita yang cerdas agar kelak dapat mendidik anak-anak di masa depan, bukan menjadi wanita yang lemah lembut. Memang kejahatan tetap terus ada tanpa pandang gender, tetapi diperlukan hukum dan rasa peka akan melindungi diri sendiri maupun orang lain harus dilakukan secara inisiatif diri, misal Anda melihat ada perempuan dilecehkan di dalam kereta, Anda harus membela dan melindungi perempuan malang itu, itu disebut rasa peka.
Perempuan belajar sejarah bukan berarti perempuan akan melawan laki-laki tetapi hanya berani untuk mengungkapkan kebenaran dan membentuk kepribadian perempuan yang cerdas, tidak lagi menjadi wanita yang lemah lembut. Apalagi, sejarah itu membentuk kepribadian perempuan itu sendiri. Jaman dulu terutama sejak politik etis diterapkan di Hindia Belanda, banyak perempuan berkumpul secara naluriah akan bersikap keras, keras kepala, bahkan tak jarang berani mengupil laki-laki yang masih suka berpoligami, bergundik, dan memperlakuan perempuan tidak adil dan kasar. Mereka sangat kompak menolak dipoligami dan menginginkan pendidikan yang layak untuk para gadis semua usia kendatipun mereka tetap pro pernikahan dengan laki-laki.
Saya sendiri laki-laki tentu tidak tahu banyak hal tentang perempuan, tetapi saya selalu berusaha untuk menghormati, mendukung, membela, dan melindungi para perempuan. Saya sadar bukan karena "kodrat" sudah sewajarnya harus melindungi perempuan tetapi saya membaca sejarah perempuan begitu sangat menyakitkan sehingga saya tidak bisa tidur. Saya menjadi khawatir dengan para perempuan dimana pun meski ada beberapa negara atau daerah memiliki hukum yang sangat baik dapat melindungi perempuan. Jadi, saya merasa kita semua harus menjaga para perempuan dari segala tindak kejahatan, pelecehan, dan perbuatan lainnya merendahkan perempuan. Oleh karena itu, saya ingin perempuan harus pintar, bukan hanya pintar memasak saja tetapi mencari ilmu sebanyak mungkin, terus belajar, terus mengembangkan diri, dan menjadi agen perubahan dari kecil maupun besar. Entah apakah dia sudah lulus S2 atau S3 sudah dianggap "perempuan pintar dan sukses" tapi dia harus terus belajar, mencari ilmu sebanyak mungkin, dan terus mengasah diri supaya menjadi perempuan pintar yang selamanya selalu belajar dan terus berkembang. Tentu itu harus didukung oleh semua orang, termasuk laki-laki yang tidak takut dengan mereka.
Jadi, kaum hawa harus terus belajar termasuk sejarah ya. Jadilah perempuan pintar!
Referensi:
Aangrijpende getuigenissen ‘troostmeisjes’ openbaar: ‘Wij liepen met zelfmoordplannen rond’, de Gelderlander, 5 januari 2022
Molemans, Griselda; Levenslang Oorlog, uitgeverij Quasar Books & Multimedia, 2020

Comments
Post a Comment